Home / Penelitian / Sejarah Kajian Perubahan Iklim di Bidang Ilmu Lingkungan

Sejarah Kajian Perubahan Iklim di Bidang Ilmu Lingkungan

Apa itu Perubahan Iklim?

Umat manusia selalu memiliki ketertarikan terhadap pola cuaca. Dalam satu setengah abad terakhir, implikasi yang lebih luas dari suhu dan tren global serta bagaimana dampaknya terhadap planet, satwa liar, dan umat manusia telah banyak dipelajari oleh berbagai kalangan. Ilmu lingkungan adalah studi tentang efek dari proses alami dan tidak alami atas interaksi komponen fisik planet terhadap lingkungan (terutama tindakan manusia). Bidang ilmu Lingkungan mencakup sejumlah disiplin ilmu yaitu: klimatologi, oseanografi, ilmu atmosfer, meteorologi, dan ekologi. Ilmu ini juga memiliki banyak kesamaan dengan ilmu biologi, fisika, geologi dan banyak disiplin ilmu lama lainnya. Perubahan Iklim dipelajari di bawah disiplin Ilmu Lingkungan, yang merupakan cabang dari Ilmu Bumi atau Ilmu Atmosfer yang telah melintasi banyak batasan bidang keilmuan. Serta menggabungkan berbagai macam metode dan alat penelitian.

Awal Abad ke-19

Kita dapat menelusuri sejarah perubahan iklim dalam kajian ilmu lingkungan kembali ke abad ke-19 ketika pertama kali konsep “Zaman Es” dan “Efek Rumah Kaca” pertama kali diajukan. Bahkan sejak tahun 1820-an, para ilmuwan telah memahami sifat-sifat gas tertentu dan kemampuannya untuk memerangkap panas matahari. Meskipun kedua konsep tersebut membutuhkan waktu cukup lama sebelum akhirnya dapat diterima. Namun setelah konsep ini dapat terbukti maka kebenaran konsep tersebut tidak dapat diragukan lagi. Saat itulah banyak komunitas ilmiah mulai mengajukan berbagai pertanyaan penting seperti: bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang membuatnya terjadi? Mengapa zaman es berakhir? Bisakah itu terjadi lagi? Jika ya, seberapa cepat? Kedua teori itu terkait erat ketika para peneliti pertama kali mulai mengusulkan gagasan bahwa tingkat gas rumah kaca yang lebih rendah di atmosfer telah menyebabkan zaman es, dan bahwa tingkat yang lebih tinggi telah menyebabkan suhu menjadi jauh lebih hangat. Bahkan kemudian, setelah memahami sifat dari apa yang sekarang kita kenal sebagai gas rumah kaca. Para ilmuwan di dunia industri yang sedang berkembang ini juga mengusulkan kemungkinan bahwa dunia pada akhirnya akan menghadapi masalah tersebut (meskipun beberapa industrialisasi yang terjadi adalah hal positif yang akan mencegah zaman es berikutnya tak dapat terhindarkan, namun kapan pun itu pasti akan terjadi). Itu bukan sesuatu yang perlu Anda khawatirkan dalam waktu dekat karena dengan kecepatan planet ini dalam mengonsumsi bahan bakar fosil. Para ahli menghitung bahwa perlu beberapa ribu tahun lagi untuk mencatat angka pemanasan global yang signifikan yang dapat mempengaruhi perubahan iklim. Ketika negara maju memperluas industrialisasinya selama abad ke-19, angka itupun juga disesuaikan lagi menjadi bertambah beberapa abad.

Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20 banyak peneliti megkritik keras teori-teori sebelumnya yang telah ada. Para peneliti tersebut berpendapat bahwa konsep pemanasan global terlalu sederhana dan tidak memperhitungkan variasi cuaca lokal seperti kelembaban. Tes yang salah pada awal abad ke-19 dengan cepat ditinggalkan dan dalam sementara waktu sebagian besar bidang kajian ilmiah kehilangan minat pada masalah tersebut. Butuh waktu hingga tahun 1930-an bagi para peneliti untuk mulai menyadari adanya masalah yang timbul dari proses pembakaran bahan bakar fosil terhadap iklim. Telah terjadi perubahan iklim yang mencolok sejak revolusi industri dan perang dunia, fakta itu semakin terlihat dan tak terbantahkan. Namun, konsensusnya menyatakan bahwa kita sedang memasuki fase pemanasan alami dan bahwa bahan bakar fosil tidak memiliki dampak signifikan terhadap iklim. Perbedaan pendapat atas hal ini ditanggapi secara skeptis dengan adanya bukti beberapa tes (yang memang cacat) kembali dengan hasil yang tidak menentu. Hanya Guy Stewart Callendar yang mengatakan bahwa perubahan iklim itu antropogenik. Namun dalam benaknya, perubahan iklim adalah hal yang positif dan hanya akan menunda zaman es berikutnya. Dia memperkirakan bahwa di abad berikutnya akan terjadi kenaikan suhu sebesar dua derajat dan merekomendasikan para peneliti agar lebih tertarik pada data yang ada.

Tahun 1940an-1960an

Pada 1940-an, para ahli mencatat kenaikan suhu 1,3C terjadi di laut Atlantik Utara sejak akhir abad ke-19; kesimpulannya menyatakan bahwa gas rumah kaca (karbon dioksida dan uap air) adalah penyebabnya. Studi dalam beberapa dekade berikutnya juga telah mengkonfirmasi kenaikan suhu ini dan baru pada tahun 1970-an gas rumah kaca lainnya dan pengaruhnya mulai terindikasi yaitu mencakup: CFC, nitrous oksida, dan metana. Awal era nuklir pada 1950-an dan 1960-an dan pemahaman imajinasi populer tentang kerusakan yang dapat timbul akibat senjata semacam itu di planet ini. Serta memberi para peneliti kesempatan untuk mempelajari peluruhan 14 isotop karbon di atmosfer. Ini adalah dasar pemahaman kita tentang perubahan iklim baru-baru ini, terutama dalam pembakaran sumber karbon. Radiocarbon-14 digunakan untuk menentukan umur objek organik dari periode sejarahnya dengan batas waktu hingga sekitar 50.000 tahun. Penjelasan dari buku Rachel Carson Silent Spring telah membawa imajinasi publik tentang efek nyata dari pembakaran ini mungkin telah kita miliki di planet kita. Tahun 1950-an merupakan awal dari era komputer. Komputer inilah juga yang menjadi dasar dari semakin besarnya minat dalam mempelajari iklim. Yang terpenting karena komputer dapat menganalisis setiap lapisan atmosfer atas bumi jauh lebih mudah serta dapat mengesampingkan data dan model sederhana sebelumnya dari awal abad ke-20. Komputer jugalah yang memberikan konfirmasi pertama bahwa peningkatan kadar karbon dioksida akan memiliki efek pemanasan seiring waktunya. Selain itu, terdapat konfirmasi bahwa peningkatan penggandaan tingkat karbon akan menyebabkan peningkatan suhu rata-rata global sebesar 3-4 derajat.

Perubahan Iklim Modern dalam Ilmu Lingkungan: 1970-an-1980-an

Menjelang tahun 1970-an dengan begitu banyaknya data dari berbagai disiplin ilmu seperti paleontologi, paleobotani, arkeologi dan antropologi. Akhirnya memunculkan pemahaman bahwa iklim bumi selalu berubah dan faktor-faktor apa saja penyebabnya. Dengan adanya disiplin ilmu baru yang membawa cakupan kumpulan data yang lebih luas ini berarti kita tidak hanya dapat melihat bahwa suhu meningkat. Tetapi kita juga dapat melihat konsekuensi potensialnya. Para ilmuwan mulai berbicara tentang perubahan kritis pada iklim akan terjadi mulai tahun 2000an. Yang paling tragis menurut berbagai opini populer oleh beberapa penulis adalah mereka menyatakan bahwa ada kemungkinan datangnya Zaman Es baru dalam beberapa abad mendatang. Tetapi, para ahli mengatakan bahwa data tersebut tampak meragukan. Media pun mulai menyebarkanya isu ini dan memicu skeptisisme iklim selama beberapa dekade berikutnya. Komunitas internasional baik pemerintah maupun badan penelitian semakin khawatir tentang dampak tindakan kita terhadap iklim dan masa depan planet kita. Pada tahun 1972, Perserikatan Bangsa-Bangsa membentuk UNEP. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan Manusia yang pertama berlangsung. Mereka bertemu di Stockhom, Swedia untuk menangani berbagai masalah lingkungan termasuk perubahan iklim.

Inti Es Berperan Penting dalam Mempelajari Iklim

Paleodata dari inti es sekarang menjadi dasar untuk meneliti bagaimana perubahan iklim akan mempengaruhi lingkungan dan ekosistem global. Dan selama periode inilah para peneliti mengidentifikasi peningkatan besar-besaran gas rumah kaca sejak revolusi industri, terutama metana. Melimpahnya partikel selama abad ke-19 jauh melebihi semua fluktuasi yang terjadi selama setengah juta tahun sebelumnya. Tahun 1970-an juga merupakan era chlorofluorocarbons (CFCs). Mereka ditemukan 10.000 kali lebih efektif dalam menyerap radiasi infra merah daripada karbon dioksida. Para peneliti juga dengan cepat menemukan efek merusak dari bahan kimia tersebut pada lapisan ozon. Yang merupakan lapisan gas yang melindungi bumi dari sinar matahari yang paling berbahaya. Setelah sifat merusak ini terkonfirmasi, zat tersebut akhirnya penggunaan zat tersebut menjadi sebuah larangan. Kebijakan ini memiliki dampak yang besar untuk perlengkapan mandi sederhana di kamar mandi kita terutama karena sebagian besar aerosol mengandung bahan kimia. Terlebih lagi, CFC diidentifikasi sebagai zat murni yang berasal dari operasi industri dan tidak ada di alam. Bukti semakin meningkat dan tahun 1988 menjadi rekor pertama sebagai tahun terpanas (sampai saat itu setidaknya. Beberapa lagi akan menyusul) dan pendirian Panel Internasional tentang Perubahan Iklim (IPCC). Pada tahun 1988 kami tahu bahwa untuk mempertahankan suhu global, planet harus memancarkan energi sebanyak yang diterimanya dari matahari; kami juga tahu bahwa ada ketidakseimbangan yang semakin meningkat. Pada tahun yang sama, Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, yang memiliki kualifikasi di bidang kimia. Memperingatkan tentang gas rumah kaca yang terpompa ke atmosfer dan memperingatkan tentang pengaruhnya di masa depan. Dia menyerukan perjanjian global untuk mengatasi masalah ini bagi generasi mendatang.

1990an-Sekarang

Banyak orang menganggap tahun 1990-an sebagai “Zaman Keemasan” ilmu lingkungan. Di antara hal-hal lain, banyak jurnal sains iklim teratas mulai terbentuk pada akhir 1980-an dan pada tahun-tahun inilah disiplin ilmu ini benar-benar mulai menggunakan data dan metode yang paling beragam dari ruang lingkup seluas mungkin. Saat itu adalah awal pemodelan iklim di mana IPCC telah dapat menerbitkan laporan mereka. Dengan terbentuknya The First Assessment Report (FAR) yang keluar pada tahun 1990. Menyusul seruan oleh PBB untuk menindak pencemaran emisi karbon, protokol yang ditetapkan di Montreal dan kemudian London berusaha untuk menghapus secara bertahap zat-zat yang paling merusak lingkungan ini. Di AS, Amandemen Undang-Undang Udara Bersih tahun 1990 terbentuk untuk tujuan mengatasi hujan asam, penipisan ozon, polusi udara, dan sejumlah masalah lingkungan lainnya. Kira-kira pada waktu yang sama, sebagian besar negara di dunia barat mengambil langkah untuk memperkenalkan standar serupa melalui undang-undang.

COMMENTS

Post your reply
We'll never share your email with anyone else.
Subscribe to our newsletter